Minggu

MARXISME III

(Sumber: Dibawah Bendera Revolusi)

Pergerakan Marxistis di Indonesia ini, ingkarlah sifatnya kepada pergerakan yang berhaluan Nasionalistis, ingkarlah kepada pergerakan yang berasaskan agama. Lebih dari itu, beberapa tahun yang lalu keingkaran ini telah menjadi suatu pertentangan paham dan pertentangan sikap, menjadi sebuah perang saudara yang menyuramkan dan menggelapkan hati mereka yang mendukung perdamaian, menyuramkan dan menggelapkan hati mereka yang mengerti, bahwa konflik seperti itulah yang menyebabkan kekalahan kita!

“Lupakan Nasionalisme, lupakan politik cinta tanah air, dan lenyapkanlah politik keagamaan”. Begitulah kira-kira lagu perjuangan yang kita dengar. Sebab katanya; Bukankah Marx dan Engels telah mengatakan bahwa “kaum buruh itu tidak memeliki tanah air?”; Bukankah dalam manifest of communism ada tertulis bahwa “komunis itu tidak mengakui agama?”; Bukankah Alquran telah mengatakan bahwa “bukanlah Allah yang menjadikan manusia, tetapi manusialah yang mengada-adakan Tuhan?”.

Dan sebaliknya! Pihak Nasionalis dan Agamis tidak kalah pula mencaci maki kaum Marxis, mencaci maki pergerakan yang bersekutuan dengan barat, mencaci maki pergerakan yang menyangkal akan Tuhan. Mencaci pergerakan yang mengambil teladan dari Rusia yang menurut pendapatnya, asasnya telah runtuh dan terbukti tidak dapat meneruskan cita-citanya, yang merupakan suatu utopi. Bahkan menimbulkan kekacauan dalam negeri, bahaya kelaparan dan wabah penyakit yang menelan korban sekitar 15 juta jiwa manusia. Jumlah yang jauh lebih besar dari pada jumlah korban tewas dalam perang besar itu sendiri!

Demikianlah dengan meruncingnya konflik antara masing-masing pemimpin. Sebenarnya akar permasalahan yang telah dimulai sejak beberapa tahun yang lalu, adalah hahwa satu dengan yang lain telah salah mengerti dan tidak saling mengindahkan.

Sebab taktik Marxisme yang baru tidak menolak bekerja sama dengan kaum Nasionalis dan Agamis di Asia, Melainkan mendukung pergerakan-pergerakan Nasionalis dan Agamis. Marxis yang tetap bermusuhan dengan Nasionalis dan Agamis di Asia, adalah Marxis yang tidak mengikuti perkembangan zaman serta tidak mengerti akan taktik Marxis yang telah berubah.

Sebaliknya, Nasionalis dan Agamis yang menunjukan kebangkrutan Marxisme, menunjukan mengenai bencana kekisruhan dan bahaya kelaparan yang terjadi akibat praktik Marxisme itu, secara langsung telah menunjukan akan ketidak-pahaman mereka sendiri atas paham Marxis serta tidak mengerti tentang penyebab terjerumusnya praktik Marxis. Sebab, bukankah Marxisme telah mengajarkan bahwa sosialismenya itu hanya dapat tercapai dengan benar jika saja negeri-negeri yang besar itu semuanya disosialiskan?

Bukankah kejadian yang sekarang ini bukan merupakan “Voorwaarde” (syarat) demi tercapainya maksud Marxisme tersebut?

Sebagai gambaran mengenai konsep tentang pratik paham Marxisme itu, penting untuk diperhatikan bahwa keruntuhan dan kekisruhan Rusia adalah dipercepat pula oleh:

  1. Blokade oleh para musuhnya.
  2. Hantaman dan serangan di 14 tempat oleh para musuhnya seperti Inggris, Prancis serta oleh Jenderal Koltchak, Jenderal Denikin, Jenderal Yudenitch dan Jenderal Wrangel.
  3. Anti propaganda yang dilakukan oleh hampir semua surat kabar di dunia.

Dalam pandangan kita, maka musuh-musuhnya itu pula yang harus ikut bertanggung jawab atas tewasnya 15 juta orang karena sakit dan kelaparan.

  • Bahwa mereka menyokong penyerangan Jenderal Koltchak, Jenderal Denikin, Jenderal Yudenitch dan Jenderal Wrangel dengan harta benda.
  • Bahwa, misalnya Inggris, yang menggelontorkan jutaan rupiah demi mendukung penyerbuan atas diri sahabatnya yang dulu itu. telah menghitamkan nama Inggris di mata dunia dengan menolak memberi bantuan kepada para petugas medis, si sakit dan si lapar.
  • Bahwa di Amerika, Rumania dan Hongaria pada saat bersamaan, menggunakan gandum yang melimpah sebagai kayu bakar. Sementara di Rusia, orang-orang di Distrik Samara menyantap daging anak-anaknya sendiri saking laparnya.

baca selengkapnya....

Sabtu

MARXISME IV

(Sumber: Dibawah Bendera Revolusi)

Bahwa sesungguhnya, luhurlah sikap H. G. Wells, seorang penulis asal Inggris, seorang bukan Komunis, dimana ia dengan tidak memihak siapapun, dengan tegas mengatakan bahwa, “Seandainya Kaum Bolshevik itu tidak di rintangi, mereka mungkin mampu menyelesaikan suatu eksperimen yang sangat besar manfaatnya bagi perikemanusiaan……. Sayangnya, mereka di halang-halangi”

Kita yang bukan Komunis pula, kita tidak memihak siapapun juga! Kita hanya memihak pada Perasatuan Indonesia, kepada persahabatan kita semua!

Telah disebutkan bahwa taktik Marxisme yang sekarang berbeda dengan yang dulu. Taktik Maxisme yang dulu sikapnya begitu sengit terhadap kebangsaan dan keagamaan. Maka sekarang, terutama di Asia, telah begitu berubah sehingga kebencian ini telah berbalik menjadi persahabatan dan persekutuan. Telah kita lihat persahabatan antara Marxis dengan Nasionalis di China, juga telah kita persahabatan antara Marxis dengan Islamis di Afganistan.

Adapun teori Marxisme telah berubah pula. Memang seharusnya begitu! Marx dan Engels bukan nabi yang dapat menulis aturan-aturan yang dapat digunakan sepanjang masa.

  • Teori-teorinya harus dirubah, bersamaan dengan perubahan zaman.
  • Teori-teorinya harus diikutsertakan pada perubahan dunia jika tidak ingin tertinggal. Marx dan Engels sendiripun mengerti akan hal ini.
  • Dalam tulisan-tulisannya, merekapun sering menunjukan perubahan paham atau perubahan mengenai kejadian-kejadian pada saat mereka masih hidup. Bandingkan pendapat-pendapatnya hingga Tahun 1847.
  • Badingkanlah pendapatnya tentang arti “Verelendung” sebagai mana termaksud dalam Manifest of Communism dengan Das Kapital.
Maka segera terlihat perubahan paham atau perubahan perindahan itu. Bahwasannya, benarlah pendapat seorang Sosial-Demokrat, Emile Vandervelde, dimana ia mengatakan bahwa, “revisionism itu tidak dimulai dengan Bernstein, namun dengan Marx dan Engels”.

Perubahan taktik dan teori itulah yang menjadi sebab, maka kaum Marxis muda baik yang lembut maupun yang keras, terutama di Asia, bersama-sama mendukung pergerakan Nasional yang sungguh-sungguh. Mereka mengerti bahwa negeri-negeri di Asia, dimana belum terdapat Kaum Proletar dalam arti sebagai di Eropa atau Amerika, pergerakannya harus diubah sifatnya sesuai dengan pergaulan hidup di Asia. Mereka mengerti bahwa pergerakan Marxis di Asia haruslah berlainan taktik dengan pergerakan marxis di Eropa atau Amerika, dan harus bekerja sama dengan partai-partai “Klein-burgerlijk”, karena disini yang terutama bukan kekuasaan melainkan perlawanan terhadap feodalisme.

Agar Kaum Buruh di negeri Asia dengan leluasa dapat menjalankan pergerakan sosialis secara sungguh-sungguh, maka penting bagi negeri-negeri itu untuk merdeka, penting bagi mereka untuk memiliki otonomi nasional. Menurut Otto Bauer, “otonomi nasional adalah suatu arah yang harus dituju oleh perjuangan proletar, karena terdapat suatu upaya yang penting bagi politiknya”. Itulah sebabnya, maka;

  1. otonomi nasional ini menjadi suatu hal yang pertama kali harus di usahakan oleh pergerakan-pergerakan Kaum Buruh di Asia.
  2. Kaum buruh di Asia wajib bekerja sama dan saling dukung merebut otonomi nasional dengan tidak melihat asas apa yang melandasi pergerakan-pergerakan itu.
  3. Pergerakan Marxisme di Indonesia harus pula mendukung pergerakan-pegerakan Nasionalis dan Agamis.

baca selengkapnya....